Perdagangan Orang Bermodus Kawin Kontrak di Puncak: Terungkap dari YouTube, Dibayar Rp 10 Juta

Perdagangan Orang Bermodus Kawin Kontrak di Puncak: Terungkap dari YouTube, Dibayar Rp 10 Juta.

Polisi berhasil membongkar modus perdagangan orang bermodus kawin kontrak di Puncak, Bogor, Jawa Barat.

Dari hasil penyelidikan, diketahui bahwa para pelaku bisnis haram ini bisa mendapatkan bayaran hingga Rp 10 juta.

Diketahui juga bahwa mereka telah melancarkan aksinya selama lima tahun.

Saat konferensi pers, polisi mengaku berhasil mengungkap praktik tersebut via video di YouTube.

Simak penjelasan lengkapnya berikut ini!

Para tersangka dan korban dihadirkan dalam konferensi pers kasus dugaan tindak pidana perdagangan orang (TPPO) di Gedung Bareskrim Polri, Jakarta Selatan, Jumat (14/2/2020)

Bareskrim Polri berhasil mengungkap kasus dugaan tindak pidana perdagangan orang (TPPO) dengan modus booking out kawin kontrak dan short time di wilayah Puncak, Bogor, Jawa Barat beberapa hari yang lalu.

Rupanya, polisi berhasil meringkus para tersangka setelah melihat video YouTube yang menyebut lokasi itu sebagai wisata seks halal bagi para turis Indonesia.

Loading...

Hal itu diungkapkan oleh Karo Penmas Div Humas Mabes Polri Brigjen Argo Yuwono.

“Jadi ini berawal dari adanya video di youtube. Video di Youtube itu dengan bahasa Inggris ya”.

“Jadi ini di-upload kemudian di sana disebutkan bahwa di daerah Bogor, Jawa Barat, itu ada sex halal di sana”.

“Jadi ini beritanya sudah sampai ke internasional,” ujar Argo saat konferensi pers di Bareskrim Polri, Jakarta, Jumat (14/2/2020) seperti yang dikutip dari Kompas.com.

Pada kesempatan yang sama, Dirtipidum Bareskrim Polri Brigjen (Pol) Ferdy Sambo mengatakan, kasus ini sudah menjadi isu internasional, sehingga pihaknya mencoba melakukan penyelidikan di daerah Puncak, Bogor.

Baca Juga :  Gegara Sopir Ambulans Kosong, Karina Bawa Jasad Bayinya Pakai Motor

“Tadi sudah disampaikan bahwa wisata seks halal di puncak ini kemudian sudah menjadi isu internasional sehingga kami mencoba melakukan penyelidikan di Puncak,” tutur Ferdy.

Ferdy mengungkapkan, tersangka AAAM alias Ali yang merupakan turis asal Arab Saudi sengaja pergi ke Puncak untuk mencari wanita dan melakukan kawin kontrak.

“WNA tujuan ke Indonesia untuk berwisata, lalu, mereka ke Puncak dan mencari wanita untuk kawin kontrak atau booking out, short time“.

“Puncak menjadi tempat kegiatan-kegiatan seperti itu,” ucapnya.

Ali ingin melakukan kawin kontrak, kemudian dia bertemu tersangka HS untuk mencarikannya perempuan.

Kemudian tersangka HS menghubungi tersangka NN dan OK sebagai penyedia perempuan alias muncikari di villa daerah puncak Bogor dan Apartemen Puri Casablanca.

“Para perempuan (korban) tersebut kemudian dibawa oleh NN dan OK ke HS di Villa wilayah Puncak Bogor dengan menggunakan kendaraan roda empat yang dikemudikan OK,” kata Ferdy.

Dalam kasus ini, polisi menetapkan total lima tersangka.

Selain tersangka NN, OK, HS dan Ali, polisi juga menetapkan tersangka DO sebagai penyedia transportasi untuk membawa korban ke HS.

Melalui keterangan polisi, sindikat ini telah beraksi sejak 2015 dan melibatkan 20 korban dan 20 konsumen.

Sejauh ini, polisi telah mengamankan 11 orang korban yang dititipkan di panti rehabilitasi.

Baca Juga :  6 Dokter Meninggal Diduga Terpapar Corona

“Selanjutnya korban yang diperdagangkan ini ada 11, yang sudah kita titipkan di panti rehabilitasi untuk dilakukan pembinaan,” tutur Ferdy.

Tersangka NN, OK, HS dan DO dikenakan Pasal 2 ayat 1 dan 2 Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang.

Ancaman hukuman bagi para pelaku yaitu pidana penjara paling lama 15 tahun dan denda maksimal Rp 600 juta.

Sedangkan tersangka Ali yang merupakan warga negara Arab dikenakan Pasal 2 ayat 1 dan 2 Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang jo Pasal 55 KUHP.

Ferdy meminta pemerintah daerah juga ikut serta dalam penanganan kasus ini supaya kejadian serupa yang mencoreng negara, tidak terulang kembali.

“Perlu tindakan yang secara bersama-sama dari stakeholder, pemerintah daerah. Kemudian dari dinas terkait sehingga ini tidak kemudian berulang yang kemudian mencoreng nama negara kita di dunia internasional,” ujarnya.

Dibayar hingga Rp 10 Juta

Sindikat ini telah beroperasi sejak 2015.

Dirtipidum Bareskrim Polri Brigjen (Pol) Ferdy Sambo mengungkapkan, artinya, sudah lima tahun sindikat ini berjalan.

“Kalau ditanya sejak kapan sudah cukup lama tapi sejak 2015 kami sudah telusuri cuma baru yang ini aktifitas WNA tersebut tertangkap,” kata Ferdy saat konferensi pers di Bareskrim Polri, Jakarta, Jumat (14/2/2020).

Ferdy menjelaskan, para tersangka menawarkan jasa booking out kawin kontrak dan short time kepada WNA.

Baca Juga :  Jokowi Perintahkan Sri Mulyani Cairkan BLT Corona Minggu Ini

Para muncikari mematok harga untuk pengguna dengan lama waktu 1-3 jam sebesar Rp 500.000-600.000, sedangkan satu malam sebesar Rp 1-2 juta.

Kemudian, untuk booking out secara kawin kontrak para muncikari mematok harga Rp 5 juta untuk jangka waktu tiga hari dan Rp 10 juta untuk jangka waktu tujuh hari.

Keuntungan yang diperoleh muncikari tersebut adalah sebesar 40 persen dari harga yang ditentukan untuk para pelanggan atau tamu.

“Keuntungan, penyedia wanita ini 40 persen. Kalau misalnya dibayar Rp 500 ribu, 40 persen dia dapat. Dibayar dia Rp 5 juta, 40 persen dia dapatnya itu. Sisanya untuk korban itu,” jelas Ferdy.

Dari kasus ini, polisi meringkus lima tersangka yaitu NN dan OK berperan sebagai penyedia korban untuk kawin kontrak alias mucikari, HS sebagai penyedia tamu atau pengguna yang akan dinikahkan dengan korban.

Kemudian, DO sebagai penyedia transportasi untuk membawa korban kepada tersangka HS, serta AA alias Ali sebagai pemesan untuk membayar korban untuk dibooking out.

Sebagai penyedia tamu, HS mendapat keuntungan dari AA (tersangka pengguna WN Arab) sebesar Rp 300.000.

Dalam keterangan polisi, tersangka NN dan OK sebagai mucikari menentukan harga untuk booking out short time atau kawin kontrak.

Sumber : tribunnews.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *